KUMPULAN SKRIPSI KESEHATAN MASYARAKAT GAMBARAN SISTEM PENGELOLAAN REKAM MEDIS DI RUMAH SAKIT

Written By Wira Junior on Monday, April 22, 2013 | 3:30 AM



 " GAMBARAN SISTEM PENGELOLAAN REKAM MEDIS DI RUMAH SAKIT LANCANG KUNING PEKANBARU TAHUN 2000 "

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan, diperlukan dukungan Sistem Kesehatan Nasional yang tangguh. Di Indonesia, Sistem Kesehatan Nasional (SKN) telah ditetapkan pada tahun 1982. SKN tersebut telah berperan besar sebagai acuan dalam penyusunan Garis–garis Besar Haluan Negara (GBHN) bidang kesehatan, penyusunan Undang–undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang kesehatan, dan juga sebagai acuan dalam penyusunan berbagai kebijakan, pedoman dan arah pelaksanaan pembangunan kesehatan. Memasuki millenium ketiga, indonesia menghadapi berbagai perubahan dan tantangan strategis yang mendasar baik eksternal maupun internal yang perlu dipertimbangankan dalam melaksanakan pembangunan nasional termasuk pembangunan kesehatan (Depkes RI, 2004).
Rumah sakit merupakan institusi pelayanan yang sangat komplek, padat profesi dan padat modal. Agar Rumah Sakit dapat melaksanakan fungsi dengan baik, maka dirumah sakit harus memiliki sumber daya manusia, sarana dan prasarana peralatan yang memadai serta dikelola secara profesional (Depkes RI, 2001).
Pengelolaan sumberdaya informasi secara efektif bagi organisasi asuhan kesehatan sama pentingnya dengan menjaga informasi yang up to date. Informasi adalah sumberdaya kritis yang perlu dipelihara dengan hati–hati sebagaimana

sumberdaya manusia, sumberdaya keuangan dan perlengkapan utama. Daya organisasi untuk memberikan pelayanan yang bermutu tinggi dan cost effective sebagian besar tergantung pada kemampuannya menyediakan informasi yang akurat dan dapat dicapai. Konsep information resource management (IRM) menganggap bahwa informasi adalah sumberdaya yang berharga yang harus dikelola apa pun bentuknya atau dimana pun tempat penyimpanannya. Informasi klinis menyokong diagnosis dan terapi, aktifitas perbaikan kinerja yang mengukur dan memperbaiki mutu asuhan serta untuk riset medis dan perbaikan kesehatan umum masyarakat. Informasi klinis yang akurat juga merupakan dasar bagi sistem penggantian biaya. (Merida L, 2002)
Dalam era globalisasi pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien sangat diutamakan dan merupakan hal yang penting. Pelayanan yang didapatkan oleh pasien adalah pelayanan yang cepat, praktis dan memungkinkan agar pasien tidak pindah ke tempat lain untuk mendapatkan kepuasan yang lebih baik. Walaupun sebenarnya unit rekam medis merupakan jenis pelayanan yang relatif sederhana tetapi perlu diperhatikan karena di unit ini tempat mencatat dan menampilkan kembali data pasien sehingga sangat berperan penting, ini berhubungan dengan kesan pertama dan rasa nyaman dalam proses selanjutnya yang akan berlangsung (Sabarguna, 2004)
Semenjak masa pra kemerdekaan, rumah sakit di Indonesia sudah melakukan pencatatan, hanya saja belum dilakukan dengan baik atau belum mengikuti sistem informasi yang baik. Penataan masih tergantung selera pemimpin rumah sakit (Direktorat Jendral Pelayanan Medis,1997). 

Catatan medis merupakan dokumen hukum permanen yang harus berisi informasi yang cukup untuk mengidentifikasi pasien, membenarkan diagnosis dan pengobatan dan mencatat hasilnya. Tetapi karena dokumentasi di dalam catatan medis dilakukan oleh berbagai penyedia layanan asuhan kesehatan seperti dokter, perawat, terapis dan sebagainya dan karena dilakukan sebagai aktifitas kedua setelah memberi asuhan pasien, dokumentasi tidak selalu selengkap dan setepat yang dibutuhkan atau diinginkan. Seorang dokter yang sibuk bisa secara tidak sengaja menulis catatan kemajuan pada catatan medis yang salah, seorang perawat yang dipanggil untuk membantu pasien lalu lupa untuk mencatat obat yang diberikan. Analisa yang teratur terhadap catatan medis harus dilakukan untuk mengelola isinya supaya memenuhi tujuannya sebagai alat komunikasi informasi asuhan pasien, sebagai bukti perjalanan penyakit dan pengobatannya untuk berbagai review hukum, reimbursement dan evaluasi sejawat dan untuk mengisi data klinis bagi aktifitas administratif, riset dan pendidikan. (Huffman, 1998).
Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1996 kepada semua petugas kesehatan wajib untuk menyimpan rahasia kedokteran, termasuk berkas rekam medis. Kemudian pada tahun 1992 dengan surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.034/BIRHUP/1972, ada kejelasan bagi rumah sakit menyangkut kewajiban untuk menyelenggarakan medical record (Direktorat Jendral Pelayanan Medik,1997).
Dari studi pendahuluan di Rumah Sakit Lancang Kuning dalam pengelolaan dan pengolahan data rekam medis masih menggunakan secara manual dalam pembuatan laporan–laporan internal seperti laporan kunjungan pasien rawat inap,
rawat jalan, poliklinik dan kunjungan kamar operasi yang semuanya masih dikerjakan secara manual. Sedangkan laporan external seperti RL1, RL2, RL2a dll masih dikerjakan secara manual sehingga petugas agak lambat dalam mengerjakannya. Di unit rekam medis Rumah Sakit Lancang Kuning dalam menerapkan sistem rekam medis masih belum semuanya berjalan sesuai dengan standar Depkes RI dalam bukunya yang berjudul Petunjuk Teknis Rekam Medis tahun yang mana semuanya harus dilaksanakan demi tercapainya sistem rekam medis yang baik dan benar juga untuk menuju akreditasi rumah sakit yang mana rekam medis termasuk pelayanan dasar dalam akreditasi.
Pada Rumah Sakit Lancang Kuning, teknologi modern atau komputer yang dimilikinya saat ini sudah sistem online dengan unit lain seperti Apotik, Keuangan dan kasir. Penggunaan komputer atau SIM RS yang ada sekarang pada unit rekam medis masih hanya sebatas pendaftaran dan penginputan data pasien rawat inap sehingga pemanfaatannya dinilai belum optimal. Dan dari survey awal kepada petugas rekam medis mengatakan job description mereka tidak jelas yang mana menjadi tanggung jawab dan kejelasan job sebagai unit rekam medis. Dan pada unit rekam medis di Rumah Sakit Lancang Kuning juga belum adanya ketetapan petugas khusus untuk melakukan pengolahan data, pendaftaran, dan petugas di ruang penyimpanan status agar mereka terfokus dengan pekerjaan masing–masing.
Di unit rekam medis rumah sakit Lancang Kuning petugas masih bekerja merangkap sebagai operator dan admitting office atau pendaftaran rawat inap sehingga pekerjaan pokok sebagai rekam medis sering terbengkalai. Sedangkan

dalam pengolahan data dan statistik rumah sakit masih dikerjakan secara manual meskipun sudah mempunyai SIMRS karena SIMRS yang ada di rekam medis hanya sebatas penginputan data pasien saja, sehinga semua ini mengakibatkan terlambatnya petugas dalam menyajikan statistik kegiatan pelayanan rumah sakit dan fungsi unit rekam medis yang diharapkan tidak bisa terlaksana sebagaimana mestinya. 




NB : JIKA SOBAT INGIN VERSI LENGKPANYA, SILAHKAN REQUEST DIKOLOM KOMENTAR...........

Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit

3 comments:

pun Harlina said...

assalam,,, klaw bisa tampilkan donk versi lengkapnya... Makasih sebelumnya.....

Luchyanna Rajagukguk said...

klo boleh versi lengkap nya y,,, mksih

Wira Junior said...

@pun harlina >> kalau mau versi lengkapnya silahkan request sy akan krim ke e-mailnya.

Post a Comment