MAKALAH PENDIDIKAN TERLENGKAP MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM

Written By Wira Junior on Thursday, July 18, 2013 | 8:58 PM



MODEL MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM


A.      PENDAHULUAN
Di dalam setiap pendidikan formal, kurikulum adalah bagian penting. Karena kegiatan utama pendidikan adalah dalam rangka melaksanakan kurikulum yang telah ditetapkan. Di samping itu, kurikulum juga berfungsi untuk menjabarkan idealisme, cita-cita pendidikan, kedalam langkah-langkah nyata yang akan menjadi pedoman untuk melaksanakan proses pendidikan dan pengajaran.
Kurikulum memiliki kedudukan yang sangat strategis karena menghubungkan idealisme pendidikan di satu sisi dan praktek pendidikan disisi lain. Karena kedudukan yang demikian ini, maka kurikulum sering kali dijadikan sebagai alat politik penguasa, misalnya melalui control terhadap apa yang harus dan tidak boleh dimasukkan ke dalam kurikulum dalam rangka mendukung kepentingannya.
Pengembangan kurikulum hendaknya dilakukan secara terus menerus, karena kurikulum itu bukan barang mati, akan tetapi memiliki sifat dinamis yang selalu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan IPTEK.

B.       RUMUSAN MASALAH
1.    Apakah pengertian model pengembangan kurikulum ?
2.    Apa saja model pengembangan kurikulum itu ?
3.    Bagaimana model pengembangan kurikulum di Indonesia ?

C.      PEMBAHASAN
1.    Pengertian Model Pengembangan Kurikulum
Model merupakan suatu bentuk mengenai susunan proses yang diwujudkan dalam penalaran hipotesis dan rumusan-rumusan teori, yang kemudian menggunakan perbandingan data yang dipakai untuk menganalisis data tersebut. Dalam pemahaman ini nampaknya model hampir identik dengan skema.[1]
Model juga bisa diartikan sebuah abstraksi dari sistem sebenarnya dalam gambaran yang lebih sederhana serta punya tingkat prosentase yang bersifat menyeluruh.[2]
Kurikulum dalam bentuknya yang sederhana merupakan himpunan pengalaman, sistem nilai, pengetahuan, keterampilan dan pola sikap yang akan diberikan pada siswa dalam mengembangkan masyarakat dikemudian hari.
Pengertian kurikulum di atas sudah menunjukkan masalah pokok pengembangan kurikulum, yakni unsur-unsur konflik ini meliputihampir segala aspek dalam pengembangan kurikulum. Karena itu pengembangan kurikulum pada dasarnya berkisar pada hal-hal sebagai berikut :
a.    Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan laju yang perlu dipercepat.
b.    Pendidikan merupakan proses transisi dan terbatas waktu.
c.    Manusia (yang belajar atau yang mengajar) terbatas kemampuannya untuk menerima, menyampaikan dan mengolah informasi.
Dari pengertian model kurikulum di atas dapat dikatakan bahwa model pengembangan kurikulum adalah suatu proses untuk menggambarkan secara keseluruhan proses kurikulum atau konsep mengenai salah satu kurikulum. Misalnya, ada model yang mempersoalkan keseluruhan proses dan ada pula yang hanya memberatkan pandangannya pada mekanisme penyusunan kurikulum. Disamping itu ada pula yang menitikberatkan ulasannya hanya antar pribadi orang-orang yang terlibat dalam pengembangan kurikulum.[3]


2.    Model-model Pengembangan Kurikulum
Model pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan proses untuk membuat keputusan dan untuk merefisi suatu program kurikulum.
a.    Model pengembangan kurikulum dari Ralph W. Tyler
Model Tyler menekankan bagaimana merancang suatu kurikulum disesuaikan tujuan dan misi suatu institusi pendidikan. Menurut Tyler ada empat macam atau hal yang dianggap fundamental untuk mengembangkan kurikulum. (1) berhubungan dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai, (2) berhubungan dengan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan, (3) berhubungan dengan pengorganisasian pengalaman belajar, (4) berhubungan dengan pengembangan evaluasi.[4]
Dasar pemikiran Tyler ini banyak menjadi dasar untuk mengembangkan kurikulum masa sekarang. Model pengembangan kurikulum ini sangat berguna untuk membuat desain dan pelaksanaan suatu mata pelajaran telah ditentukan, maka pengembangan kurikulum harus memperhatikan komponen-komponen berikut ini :[5]
(1)      Hakekat siswa meliputi pengembangan sosial, psikologis fisik dan emosional.
(2)      Hakekat materi pelajaran
(3)      Kebutuhan masyarakat (konsumen)
(4)      Hambatan-hambatan
(5)      Hakekat tenaga pengajar (guru)
b.    Model pengembangan kurikulum dari Hilda Taba
Model Taba lebih menitikberatkan pada mengembangkan kurikulum sebagai suatu proses perbaikan dan penyempurnaan kurikulum. Pada prinsipnya terdapat lima langkah pengembangan model Taba.
(1)      Menghasilkan unit-unit percobaan melalui langkah-langkah :[6]
(a)      Mendiaknosis kebutuhan
(b)     Memformulasikan tujuan
(c)      Memilih pengalaman belajar
(d)     Mengorganisasikan pengalaman belajar
(e)      Menentukan alat evaluasi serta prosedur yang harus dilakukan siswa.
(f)      Menguji keseimbangan kurikulum
(2)      Menguji coba unit eksperimen untuk memperoleh data
(3)      Merevisi dan mengkombinasikan unit-unit eksperimen
(4)      Mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum
(5)      Implementasi dan desiminasi kurikulum yang teruji[7]
Model ini merupakan kebalikan cara yang lazim ditempuh secara deduktif. Kurikulum model ini hanya dapat dilaksanakan oleh pendidikan yang terbuka, luwes, dan berorientasi pada proses sehingga diperlukan kelompok dalam latihan sensitif.
c.    Model pengembangan menurut Robert S. Zais
Robert S. Zais mengemukakan delapan model pengembangan kurikulum sebagai berikut :
(1)      Model Administratif
Model administrasi dikenal juga dengan model garis staf dan unit staf atau sering pula dinamakan dari atas kebawah. Dikatakan demikian karena inisiatif dan gagasan pengembangan kurikulum datang dari administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi dengan wewenang administrasinya, administrator pendidikan, apakah dirjen, direktur atau kepala kantor wilayah pendidikan dan kebudayaan membentuk suatu komisi atau tim pengarah pengembangan kurikulum.[8]
(2)      Model dari bawah (Grass Roots)
Model Graas Roots adalah pengembangan kurikulum berasal dari bawah, artinya guru-guru dan sekolah. Model ini digunakan dan berkembang dalam sistem pendidikan disentralisasi.Model ini didasarkan pada pandangan bahwa implementasi kurikulum akan lebih berhasil jika staf pengajar atau guru sebagai pelaksana kurikulum, sejak semula diikutsertakan dalam pengembangan kurikulum.
(3)      Model Demonstrasi
Model ini diprakarsai oleh sejumlah staf pengajar yang bekerjasama dengan ahli dengan tujuan mengadakan pembaharuan kurikulum. Pada model ini, umumnya menerapkan dalam lingkup kecil, yakni hanya mencakup suatu atau beberapa sekolah, suatu komponen kurikulum atau mencakup keseluruhan komponen kurikulum.[9]
(4)      Sistem Beauchamp
Model ini diperkenalkan oleh G. A Beauchamp yang mengemuka bahwa ada lima langkah dalam pengambilan keputusan mengenai pengembangan kurikulum yaitu :
(a)      kegiatan yang harus dilakukan adalah menerapkan area atau lingkup wilayah yang akan dicakup oleh pengembangan kurikulum.
(b)     Menerapkan personalia, yaitu orang-orang yang turut serta terlibat dalam pengembangan kurikulum.
(c)      Berhubungan dengan pengorganisasian dan penentuan prosedur perencanaan kurikulum yang meliputi penentuan tujuan, penentuan materi pelajaran dan kegiatan belajar.
(d)     Tahap untuk mengimplementasikan kurikulum secara sistematis.
(e)      Sebagai langkah terakhir, yakni menyelenggarakan evaluasi kurikulum. Dimensi-dimensi yang dievaluasi meliputi kurikulum oleh staf rencana kurikulum hasil belajar dan sistem kurikulum.
(5)      Model hubungan interpersonal dari Rogers
Caris Rogers, seorang psikolog adalah pencetus model ini. Ia mendasarkan pandangannya bahwa kurikulum diperlukan dalam rangka mengembangkan individu yang terbuka, luwes dan adaftif terhadap situasi perubahan.
(6)      Model Action Research yang sistematis
Model pengembangan kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perubahan kurikulum merupakan perubahan sosial. Hal ini mencakup suatu proses yang melibatkan orang tua, siswa, guru, struktur sistem sekolah, pola hubungan pribadi, dan kelompok dari sekolah dan masyarakat. Model ini didasarkan pada tiga faktor utama yang meliputi (1) adanya hubungan antar manusia, (2) organisasi sekolah dan masyarakat, (3) otoritas ilmu.
(7)      Model Hilda Taba
Pada bahasan ini sudah diperjelas dalam keterangan model tersendiri.
(8)      Model teknologi
Model teknologi mempunyai tiga variasi, antara lain :
(a)      Model analisis perilaku, melalui kegiatan dengan jalan melatih kemampuan anak didik, mulai dari tingkat sederhana sampai yang kompleks secara bertahap.
(b)     Model analisis sistem, memulai kegiatannya dengan menjalankan tujuan-tujuan secara khusus, kemudian menyusun alat-alat pengukur untuk menilai keberhasilannya dan mengidentifikasi sejumlah faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap proses penyelenggaraan.
(c)      Model berdasarkan computer, memulai kegiatan dengan jalan mengidentifikasi sejumlah unit-unit kurikulum lengkap dengan tujuan-tujuan instruksional khususnya.[10]
3.    Model Pengembangan Kurikulum di Indonesia
Pengembangan kurikulum di Indonesia dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yakni pendekatan yang berorientasi pada bahan pelajaran dan pendekatan yang berorientasi pada tujuan.
Model yang dipergunakan untuk mengembangkan kurikulum setiap jenjang sekolah ialah model yang berorientasi pada tujuan. Pertanyaan-pertanyaan yang kali pertama timbul adalah apakah yang ingin dicapai, pengetahuan keterampilan dan sikap apakah yang diharapkan dimiliki siswa setelah mereka menyelesaikan kurikulum.[11]
Pendekatan yang berorientasi pada tujuan ini memiliki kelebihan, antara lain :[12]
a.    Tujuan yang ingin dicapai menjadi jelas bagi penyusun kurikulum.
b.    Tujuan-tujuan yang jelas tersebut akan memberikan arah yang jelas pula dalam menetapkan materi pelajaran, metode, jenis-jenis kegiatan dan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan.
c.    Tujuan-tujuan yang jelas juga akan memberikan arah penilaian yang akan dicapai.
d.   Hasil penilaian yang terarah akan membantu dalam penyusunan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.

Di Indonesia berlaku sistem pendidikan yang bersifat nasional artinya praktek dan pelaksanaan pendidikan berlaku untuk seluruh Indonesia. Hal ini telah diatur lebih jauh dalm UU SISDIKNAS. Setiap tujuan pendidikan merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan nasional.

D.      SIMPULAN
1.    Pengertian model pengembangan kurikulum adalah suatu konsep untuk menggambarkan secara keseluruhan proses kurikulum atau konsep mengenai salah satu kurikulum.
2.    Pengembangan kurikulum terdiri dari berbagai macam model diantaranya :
a.    Model pengembangan kurikulum dari Ralph W. Tyler
b.    Model pengembangan kurikulum dari Hida Taba
c.    Model pengembangan kurikulum dari Robert S. Zais
Robert mengemukakan ada 8 model pengembangan :
a.    Model Administrativa
b.    Model dari bawah (Grass Roots)
c.    Model Demonstrasi
d.   Sistem Beauchamp
e.    Model Hilda Taba
f.     Model hubungan interpersonal
g.    Model action research yang sistematis
h.    Model Teknologi
3.    Pengembangan kurikulum di Indonesia dilakukan melalui dua pendekatan yaitu pendekatan yang berorientasi pada bahan pelajaran dan pendekatan yang berorientasi pada tujuan.






DAFTAR PUSTAKA


Hermawan, Herri Asep, Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Universitas Terbuka, 2003.
Muslam, Pengembangan Kurikulum PAI, Semarang: PKPI, 2008.
Nasution S, Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2003.
Syarief, Hamid, Pengembangan Kurikulum,Surabaya: PT Bina Ilmu, 1995.
www.damandiri.co.id.pengertian-model-kurikulum  diakses 11 Oktober 2012.
www.hendrap.wordpress.com/model-model-pengembangan-kurikum. diakses 11 Oktober 2012. 

Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit

0 comments:

Post a Comment